NAH INI DIA: Dinihari Jangan Ngobrol Bersama Istri Tetangga
NGOBROL berdua dengan bini tetangga bisa sensitip, apa lagi di malam dinihari. Maka di Sumsel, gara-gara Ny. Ratmidah, 40, kepergok suami ngobrol di teras rumah dengan Ridwan, 50, pukul 03.00 dinihari, cemburunya memuncak. Meski belum tentu selingkuh, keduanya langsung dibantai. Jika dasarnya cantik, meski sudah emak-emak, enak juga dipandang. Tapi memandang pun harus hati-hati, sebab jika suaminya pencemburu, bisa jadi masalah. Antar tetangga, hal demikian sering terjadi. Lebih parah, tak hanya saling pandang, banyak juga yang berakhir ke ranjang. Padahal membangun koalisi kenikmatan pada tempat yang bukan domainnya, bisa berakibat fatal, salah-salah nyawa ikut mental. Nasib sial ini dialami Ridwan, warga Cengal, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Dia kepergok ngobrol malam dinihari bersama Ny. Ratmidah tetangga sendiri, di teras rumah. Siapa menyangka, akibat kecerobohan ini harus dibayar mahal. Dia dibantai oleh Saidi, 43, suami Ratmidah. Ketika Ratmidah membela tetangganya tersebut, dia malah dibantai sekalian. Dua nyawa melayang gara-gara peristiwa menjelang subuh. Ny. Ratmidah memang sudah emak-emak. Karena tidak militan, tak ada Capres yang mau melirik dan memanfaatkan sebagai Timses. Tapi meski tidak militan, dia punya kelebihan lain, yakni kecantikan yang masih lumayan prima. Bodinya masih sekel nan cemekel, sehingga kata orang yang berotak ngeres, masih enak digoyang dan perlu! Ridwan tetangga selang beberapa rumah, termasuk lelaki yang suka mencermati kecantikan Ratmidah. Maklumlah, meski usia sudah pas kepala lima, tapi itu kan untuk puser ke atas. Bagi puser ke bawah, rasanya masih berusia 17 tahun saja. Karenanya melihat barang mulus matanya masih segerrrrr saja. Doanya dalam hati, “Mbut rambut, jangan segera putihlah kau….!” Jika Ratmidah belanja ke warung, mata Ridwan suka membuntuti. Melihat cara bini Saidi ini berjalan, otaknya jadi ngeres ke mana-mana. Tapi rupanya Ratmidah juga tahu akan mata jalang lelaki tetangga itu. Maka setiap langkahnya diintai Ridwan, cara berjalannya dibikin seaksi mungkin seperti peragawati di atat catwalk. Tentu saja jantung Ridwan semakin sedut senut. Sejak itu keduanya menjadi akrab, bahkan kadang Ridwan barani colek pantat Ratmidah, yang ternyata masih kentel. Tapi yang dicolek tidak juga marah, mengadu ke suami juga tidak. Apakah ini pertanda sinyal-sinyal lampu hijau telah menyala. Sebab logikanya, jika Ratmidah tidak suka pasti mengadu pada suami. Seperti apa hubungan selanjutnya antara Ratmiah dengan Ridwan, tidak jelas. Yang pasti beberapa minggu lalu Saidi memergoki istrinya ngobrol berdua dengan Ridwan di teras dengan suara berbisik-bisik. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Sebentar lagi bakal terdengar tarhin di mesjid-mesjid, lalu disusul adzan subuh. Ketika dipergoki dirinya, ternyata Ridwan langsung kabur. Maka Saidi pun jadi curiga sekaligus cemburu, berarti di teras itu keduanya tak sekedar ngobrol, tapi ada aktivitas lain. Dia bertanya pada Ratmidah, apa yang baru saja dilakukan? Katanya ngobrol biasa, dari ekonomi, sosial sampai politik antara Cebong dan Kampret. Tapi dijamin tak ada perselingkuhan. Beberapa hari lalu saat Saidi bersampan dengan istrinya, terlihat Ridwan juga naik sampan. Seakan lupa akan kejadian tengah malam di teras, Ridwan mendekat. Tiba-tiba dia dibacok parang oleh Ridwan. Ratmidah mencoba menolong tetangganya dengan memukul Saidi pakai dayang, pletakkkkkkk! Saidi jadi kalap, Ratmidah dibacok sekalian bersama Ridwan. Keduanya pun tewas bersama di atas sampan. Gara-gara ngobrol dinihari, nyawa melayang terlalu dini. (Gunarso TS)
NGOBROL berdua dengan bini tetangga bisa sensitip, apa lagi di malam dinihari. Maka di Sumsel, gara-gara Ny. Ratmidah, 40, kepergok suami ngobrol di teras rumah dengan Ridwan, 50, pukul 03.00 dinihari, cemburunya memuncak. Meski belum tentu selingkuh, keduanya langsung dibantai. Jika dasarnya cantik, meski sudah emak-emak, enak juga dipandang. Tapi memandang pun harus hati-hati, sebab jika…
