NAH INI DIA: Tidak Terima Emak Dikencani Kepala Dusun Tewas Digolok
ANAK kadang tak memahami hasrat orangtua. Muhid, 28, dari NTB ini misalnya, dia tak rela ibunya yang janda menikah lagi. Tambah tak rela lagi, Ny. Hani, 48, emaknya mau saja dikencani Pak Kadus sebelum resmi. Maka saat kepergok kencan di sawah, Kadus Suhaimi, 50, langsung dibacok golok hingga wasalam. Ditinggal mati suami di kala masih muda, momok yang ditakuti kalangan wanita. Di samping kehilangan sumber ekonomi sehari-hari, juga bisa berakibat kedinginan di setiap malam. Sebab yang namanya ibu rumahtangga, kebutuhan benggol dan bonggol harus berbanding lurus. Lebih-lebih buat pasangan yang berusia muda, belum sampai tingkat emak-emak. Kebutuhan perut dan yang di bawah perut harus linear. Ny. Hani warga Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tengara Barat (NTB), kebetulan ditakdirkan menyandang status janda dalam usia muda. Sekitar 8 tahun lalu suami meninggal, sejak itu pula dia jadi terganggu dari sektor benggol dan bonggol. Benggol masih bisa dapat bantuan dari keluarga besar. Lha soal bonggol, ini merupakan problem multidimensi. Sebetulnya banyak lelaki yang mengajak janda Hani untuk berkoalisi, sehingga menyandang status janda tak perlu lama. Tapi pertimbangan sekarang begitu kompleks. Dia tak bisa lagi sekedar mencari enak, tapi harus ingat anak. Sebab anak-anaknya melarang Ny. Hani menikah lagi, cukup fokus membesarkan anak. Toh di kampung juga ada sawah yang bisa diolah untuk sumber ekonomi. Sawah warisan suami memang berpetak-petak, tapi “sawah” sepetak miliknya kan perlu juga ada yang nggarap. Karena serba repot dalam pilihan, sudah lebih dari 5 tahun Ny. Hani menyandang status janda. Padahal kata ludruk Surabaya, dadi randha ngentekna klasa (jadi janda bikin habis tikar). Nggak jelas benar apa maksudnya, karena memangnya ada janda doyan tikar? Belakangan, ketika usia Ny. Hani sudah emak-emak, ada juga lelaki yang gencar mendekati, meski dia sudah beristri. Dia adalah Suhaimi Kepala Dusun (Kadus) di desa itu. Tapi orangnya santun, dan pasti beriman pula. Dia sangat pintar mendekati dan mengambil hati wanita. Maka Ny. Hani pun jadi lupa akan pesan anaknya. Pada suatu saat, dia benar-benar bertekuk lutut dan berbuka paha untuk Pak Kadus. Pyarrrrr….., kepala Ny. Hani mendadak terasa ringan, seperti pagi-pagi minum kopi panas. Kebutuhan biologis yang selama ini tertahan, terlampiaskan sudah. Asal ada peluang Suhaimi – Hani mengulang sukses. Bisa di kamar rumah, bisa pula di gubuk tengah sawah di malam hari. Namanya kebelet asmara, bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, kalau perlu sambil minum Coca Cola. Beberapa malam lalu, habis magrib Suhaimi janjian dengan Hani untuk kencan di sawah. Dalam waktu bersamaan, Muhid anak lelaki janda Hani juga sedang mencari ibunya. Kok di tengah gelapnya sawah, dia mendengar orang bercakap-cakap dalam gubuk. Segeralah Muhid mendekatinya. Begitu disenter, lho……kok ibu sendiri bersama Pak Kadus yang sangat dibencinya. Sementara ibunya kabur, Muhid terus cekcok mulut bersama Pak Kadus. Sama-sama emosi, Suhaimi mengeluarkan badik yang tadinya untuk menyelesaikan pekerjaan di sawah. Muhid berhasil merebutnya, dan akhirnya dibacokkan berulangkali ke tubuh Pak Kadus. Tentu saja wasalam di tempat. Habis mengeksekusi Pak Kadus, Muhid menyerahkan diri ke Polsek Sokotong. Ironis sih, di mana-mana ada gerakan magrib mengaji, ini habis magrib malah kencani janda. (Gunarso TS)
ANAK kadang tak memahami hasrat orangtua. Muhid, 28, dari NTB ini misalnya, dia tak rela ibunya yang janda menikah lagi. Tambah tak rela lagi, Ny. Hani, 48, emaknya mau saja dikencani Pak Kadus sebelum resmi. Maka saat kepergok kencan di sawah, Kadus Suhaimi, 50, langsung dibacok golok hingga wasalam. Ditinggal mati suami di kala masih muda,…
