NAH INI DIA: Suami Bukanlah Tipe Pilihan Malam Pertama jadi Hambar

SETIAP wanita punya pilihan lelaki ideal, begitu pula Suryaning, 28, dari Surabaya ini. Tapi dasar nasib, dia dipaksa nikah dengan lelaki yang bukan tipe idealnya. Akibatnya malam pertama jadi hambar, persis debat Capres Jokowi-Prabowo. Ujung-ujungnya, pasangan pengantin ini sepasar bubar (cerai). Setiap pasangan pengantin baru, pasti mendambakan acara “serangan umum” yang seru nan syahdu. Senapan dikokang terus, peluru duabelas koma tujuh ditembakkan ke musuh di garis demarkasi. Tapi tak semua pasangan pengantin baru bisa bermalam pertama dengan sukses. Ada juga karena kecewa pada suami yang bukan pilihan, malam pertama menjadi malam terakhir. Suryaning pengantin baru dari Surabaya, ternyata juga bernasib seperti itu. Kecatikan wajahnya tak menjamin bisa mendapatkan suami yang ideal dan sesuai dengan selera dan kriterianya. Di jaman now seperti sekarang dia masih bernasib seperti Siti Nurbaya, harus kawin dengan lelaki sekelas Datuk Maringgih, padahal cinta Suryaning sudah diborong pacarnya setipe Samsul Bahri. Usia Suryaning belum kepala tiga, tapi orangtuanya sudah gelisah cemas jangan-jangan anaknya tak laku kawin. Kalau barang, bisa ditawarkan di Buka Lapak, pasti segera laku. Lha kalau orang? Promosinya paling-paling getok tular pada relasi dan kenalannya. Sebetulnya Suryaning ini cukup cantik di kelasnya. Bodi sekel nam cemekel, pokoknya bikin lelaki berkhayal yang mboten-mboten. Sayangnya, dia terlalu banyak pilihan dan kriteria. Calon suaminya harus punya penghasilan tetap, bodi dan perawakan ideal, tidak merokok, santun dan seiman. Gara-gara persyaratan itu, hingga kini belum ketemu jodoh. Ee, tiba-tiba Suryaning diberitahu ayahnya, bahwa sudah ada lelaki yang melamarnya. Namanya Dunhil, 30, sudah punya pekerjaan tetap, meski namanya seperti merk rokok luar negri, tapi dijamin dia tidak merokok. “Yang penting, dia santun dan seiman. Kamu jadi istrinya, maju ekonominya, bahagia keluarganya,” kata orangtua Suryaning berpromosi. Sebetulnya Suryaning menolak, tapi ternyata orangtuanya sudah pesan gedung dan katering, sekaligus cetak undangan. Padahal dia kenalan dengan Dunhil juga baru sekali. Dia benar-benar heran pada orangtuanya, wong mencarikan suami buat anak kok sistem kejar tayang, seperti bulan depan Indonesia sudah punah. Calon suaminya ini memang sudah mapan, tapi namanya Dunhil, penampilannya mirip kuda nil, gemuk pendek! Maka jalan barang dengannnya justru merasa malu. Tambah mengecewakan, cowok masa kini kok buta situasi. Ditanya apa itu PPDB kok katanya: Petugas Pemberantasan Demam Berdarah. Padahal bapaknya pensiunan guru, yang banyak mengajar peserta didik. Karena Suryaning tak mau bikin malu orangtua, akhirnya pernikahan itu dijalani saja. Tapi pada malam harinya, ketika “serangan umum” digelar di kamar pengantin, berlangsung dengan hambar, persis debat Capres perdana kemarin. Debat Capres masih ada empat event lagi, kalau “serangan umum” model begini? Jangankan 4 kali lagi, sekali ini saja Suryaning sudah tobat-tobat, nggak mau lagi alias selalu mogok ranjang. Akhirnya, Dunhil pun memilih menceraikan lewat Pengadilan Agama Surabaya. Kadung dianggap kuda Nil, mending pulang ke Afrika sono, Mas. (*/Gunarso TS)

SETIAP wanita punya pilihan lelaki ideal, begitu pula Suryaning, 28, dari Surabaya ini. Tapi dasar nasib, dia dipaksa nikah dengan lelaki yang bukan tipe idealnya. Akibatnya malam pertama jadi hambar, persis debat Capres Jokowi-Prabowo. Ujung-ujungnya, pasangan pengantin ini sepasar bubar (cerai). Setiap pasangan pengantin baru, pasti mendambakan acara “serangan umum” yang seru nan syahdu. Senapan dikokang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *