NAH INI DIA: Pacaran Selalu Menyayangi Menikah Nyinyir Bak Oposisi
SAAT pacaran dulu, Indri, 26, sangat disayangi Jamal, 29, selaku kekasih. Tapi begitu menikah, saat begituan tak menemukan keperawanan, mendadak suami berubah. Kini Jamal banyak tuntutan. Begini salah, begitu salah. Pendek kata kini Jamal sudah seperti parpol oposisi, nyinyir terus pada istri sendiri. Dalam politik, nyinyir pada penguasa sepertinya sudah menjadi kewajiban setiap parpol oposisi. Dulu yang berkuasa Partai Demokrat, PDIP juga selalu nyinyir pada pemerintahan SBY. Giliran yang berkuasa PDIP, Gerindra dan Demokrat juga gantian menyinyiri pemerintahan Jokowi-JK. Pokoknya kayak iklan teh gendul, tiada hari tanpa minum nyinyir. Ternyata dalam urusan rumahtangga juga bisa seperti itu. Contohnya pasangan Jamal-Indri dari Kaliasin, Surabaya ini. Saat pacaran, Jamal menganggap Indri itu bak konstituen yang harus disikapi dengan baik, santun. Tapi setelah coblosan, Jamal mulai kelihatan aslinya, kasar dan nyinyir bak seorang politisi gagal berkuasa. Indri mengakui hal ini. Selama pacaran dua tahun, Jamal menganggap dirinya putri di Negeri Dongeng yang selalu dimanjakan. Bagaimana pun kelakuan dirinya, Jamal tak pernah menegurnya. Betul-betul mirip simbah pada cucu tersayang. Berbuat apa saja diamini, ketimbang nangis. Karena kesabaran, perhatian, ditambah santun dan seiman, akhirnya Indri tak bisa menolak cinta Jamal. Mereka pun menikah. Tapi di malam pertama, Jamal sudah kecewa pada serangan umumnya yang non 1 Maret 1949 itu. Soalnya ternyata Indri sudah tidak lagi perawan. Mau diangket untuk menuju interpelasi, cari dukungan ke mana? Mana mau adik ipar dan mertua ikut tanda tangan. Akhirnya Jamal hanya mampu bersikap streng plus nyinyir pada istri sendiri. Indri yang sudah bekerja membangun karier sebagai PNS, diminta berhenti dengan alasan tugas istri itu ya di dapur dan tempat tidur. Tentu saja Indri menolak dengan keras. Memangnya jadi PNS itu gampang? Lihat tuh di sono, banyak honorer K-1 dan K-2 yang puluhan tahun belum diangkat. Gara-gara usulannya diveto istri, kini Jamal melakukan strategi lain, untuk menumpahkan segala kekesalannya. Semua tindakan istrinya selalu dinyinyiri. Masak dinilai terlalu asin, mencuci tak pernah bersih. Bahkan nyapu pun, di mata Jamal tak ada yang benar. Paling menyebalkan, Indri juga dilarang bergaul dengan ibu-ibu di lingkungannya. Ikut kegiatan PKK, katanya itu (P)erempuan (K)urang (K)erjaan. Aktif dalam arisan, katanya itu ajang ngrasani (bergunjing) tetangga sendiri. Pendek kata nyinyir dan nyinyir terus. Lama-lama capek juga Indri punya suami model Jamal. Mau ditukar tambah, memangnya ada ruangnya di Buka Lapak? Akhirnya ketimbang selalu diatur dan diawasi bagaikan anggota Petisi 50 jaman Orde Baru, mendingan cerai sajalah. Capek sudah dia mendampingi Jamal. “Mumpung belum ada anak ini.” Kata Indri di kantor Pengadilan Agama Surabaya. Yakin Mbak? Tahun 2018 ini ganti suami? (JPNN/Gunarso TS)
SAAT pacaran dulu, Indri, 26, sangat disayangi Jamal, 29, selaku kekasih. Tapi begitu menikah, saat begituan tak menemukan keperawanan, mendadak suami berubah. Kini Jamal banyak tuntutan. Begini salah, begitu salah. Pendek kata kini Jamal sudah seperti parpol oposisi, nyinyir terus pada istri sendiri. Dalam politik, nyinyir pada penguasa sepertinya sudah menjadi kewajiban setiap parpol oposisi. Dulu…
