NAH INI DIA: Berani `Meliput` Bini Orang Tapi Takut Diliput Wartawan
SI SAMIJO, 42, ini aneh. Bini orang “diliput”-nya di dalam hotel. Giliran tertangkap basah suami Ny. Tarini, 37, dan kemudian diliput sejumlah koran, eh marah-marah. Katanya, orang sedang susah kok malah dipotrat-potret! Padahal suami WIL Samijo ini polisi lho. Kalau didor jidatnya bagaimana, hayo? Kemarin HPN (Hari Pers Nasional) ke-29 diperingati di Bengkulu. Ketua PWI Margiono menyebut Presiden SBY itu “Sahabat Pers”. Pak SBY menerima sebutan itu, meski dirinya sering “digebuki” pers itu sendiri. Soalnya sebagai presiden di era reformasi, meski marah dia tak bisa lagi main cabut SIT atau SIUPP sebagaimana jaman Orde Baru. Bahkan pasal “penghinaan presiden” yang ada diatur dalam KUHP juga sudah dibatalkan MK sejak tahun 2006. Jadi berbahagialah kaum kuli tinta, karena kebebasan pers benar-benar telah dinikmati. Tapi Samijo dari Gunung Kidul (DIY) sama sekali tak menyadari seperti apa kedudukan pers itu. Ketika dia dipotrat-potret sejumlah wartawan gara-gara aksi mesumnya jadi urusan polisi, eh…..dia marah-marah. ”Siapa yang menyuruh kalian motret? Orang sedang susah malah dipotrat-potret!” ujarnya sambil mengancam mau banting kamera wartawan. Tapi sampai Samijo diliput wartawan, sesungguhnya juga gara-gara ulahnya sendiri. Bayangkan, di rumah sudah punya istri, eh masih juga doyan ”meliput” bini orang. Padahal Ny. Tarini yang belakangan sering dikencani ini masih istri sah seorang anggota polisi di Polisi Polda DIY. Apakah Samijo nggak membayangkan, andaikan dia ditembak jidatnya oleh polisi itu gara-gara nembak bininya pakai pistol gombyok? Jika diusut-usut sampai mirip benang kusut, sebetulnya kesalahan tak bisa mutlak ditimpakan kepada Samijo. Ny. Tarini juga perlu jadi tersangka utama; kenapa sudah punya suami polisi masih gatelan menerima cinta lelaki lain. Apakah Aipda Subroto, 42, sebagai suaminya kurang mampu membahagiakan secara materil maupun onderdil? Aipda Subroto sendiri awalnya tak curiga akan kelakuan istrinya. Cuma ketika iseng membuka SMS yang baru saja masuk ke HP istrinya, informasi di dalamnya sangat mengejutkan. ”Aku menunggumu di Baron, sayank!” Gila, bini orang disayang-sayang. Paling bikin Subroto jengkel, nulis sayang saja huruf belakangnya pakai ”nk” bukan ”ng” bagaikan ”ikhafak” dalam Ilmu Tajwid. Penasaran dengan kencan istrinya, diam-diam Subroto mencegat perjalanan istrinya di Piyungan, pada rute yang akan dilalui istrinya. Dugaannya ternyata benar, karena dua jam kemudian istrinya nampak naik sepeda motor ke arah Wonosari. Subroto terus membuntuti. Dan ternyata benar pula, sampai di Baron keduanya lalu berboncengan menuju sebuah hotel di Wonosari. Dadi Aipda Subroto semakin kemrungsung (gundah). Sebab jika laki perempuan bukan suami istri masuk hotel, apa lagi targetnya bila bukan ”eksekusi” daripada sebuah koalisi? Dan itu pula memang yang dilihatnya. Dengan mata kepala sendiri dia harus melihat bagaimana isrinya sedang melayani Samijo berhubungan intim bagaikan suami istri. Gubrakkk….., pintu hotel digedor dan Samijo pun terpaksa menghentikan aksinya meski belum tuntas tasss. Keduanya segera digelandang ke Polres Wonosari, untuk menjalani pemeriksaan. Tapi ketika sejumlah wartawan mengerumuni dan main potret jeprat-jepret, Samijo marah, bahkan mengancam akan banting kamera wartawan. ”Siapa yang yang nyuruh kalian motret? Orang sedang susah kok malah dipotret segala.” ujar Samijo. Susah kan belakangan, awalnya enak juga kan? (HJ/Gunarso TS)
SI SAMIJO, 42, ini aneh. Bini orang “diliput”-nya di dalam hotel. Giliran tertangkap basah suami Ny. Tarini, 37, dan kemudian diliput sejumlah koran, eh marah-marah. Katanya, orang sedang susah kok malah dipotrat-potret! Padahal suami WIL Samijo ini polisi lho. Kalau didor jidatnya bagaimana, hayo? Kemarin HPN (Hari Pers Nasional) ke-29 diperingati di Bengkulu. Ketua PWI…
