NAH INI DIA: Pengurus Takmir Masjid Itu Menyandang Dosa Akumulatif
Nah ini dia 15 Desember 2013 Sebagai pengurus takmir mesjid, kelakuan Badrun, 55, memang terlalu amat sangat. Memperkosa saja sudah dosa besar, eh malah dilakukan dalam mesjid pula. Jelas dia akan menyandang dosa akumulatif (gabungan). Karena ulahnya pula, dia jadi urusan polisi Polres Sumenep (Madura). Ditunjuk sebagai takmir mesjid tentunya karena pemahaman agama Islamnya lebih baik, juga merupakan tokoh masyarakat setempat. Karena itulah dia sebagai takmir akan berusaha memakmurkan mesjid itu, dari mengisi berbagai pengajian, di samping salat berjamaah secara rutin. Tapi seorang takmir mesjid di Desa Karanganyar Kecamatan Kalianget ini lain dari yang lain. Jadi takmir mesjid, Badrun malah bersekutu dengan setan untuk memperkosa Khamamah, 48, janda STNK di kampung tersebut. Alasannya untuk memberi azimat penglaris dagangan. Tapi begitu janda itu masuk mesjid, eh malah pintu dikunci dan terjadilah peristiwa terkutuk itu. Badrun yang sudah pernah menunaikan rukun Islam ke-5 ini di kampungnya memang ditunjuk sebagai ketua takmir mesjid. Di samping itu dia juga dikenal sebagai “wong pinter” yang bisa mengobati berbagai penyakit. Maka banyak warga kampung yang minta pertolongan pada Badrun, dari anak yang rewel melulu sampai penyakit yang tak tersembuhkan di tangan dokter. Sebagai lelaki normal, meski menjabat paranormal, Badrun ternyata juga ingin memanjakan alat vital. Belakangan dia sangat perhatian pada janda Khamamah yang setiap hari muter kampung menjajakan makanan anak-anak. Meski di rumah sudah punya ”kendaraan” sendiri, rupanya dia pengin juga menjajal yang satu ini. Ini jenis ”kendaraan” murah yang bebas polusi, tanpa bensi dan tak perlu dipasangi RFID. ”Ee Khamamah, kamu pengin laris daganganmu nggak?” kata Badrun dengan bahasa Madura, tentunya. Tentu saja janda STNK itu menjawab pengin. Oknum takmir mesjid itu menjanjikan memberikan ajimat, tapi penyerahannya harus jam 22 dan di mesjid yang sama, tempat biasanya Badrun beraktivitas. Sebetulnya Khamamah juga agak curiga, masak penyerahan azimat kok di mesjid. Bung Karno dulu memberikan lima azimat revolusi di Istana Negara, kok ini azimat yang berbau klenik malah di Istana Allah? Tapi karena sang pemberi adalah tokoh yang sangat dikenal dan dihormatinya, malam itu juga dia datang ke mesjidnya Badrun. Maunya Khamamah di emperan mesjid saja, tapi oleh Badrun dipaksa masuk. Dan sungguh di luar dugaan, begitu dia sudah masuk malah semua pintu mesjid dikunci. Apa yang terjadi? Bukan diberi azimat penglarisan, tapi justru dipaksa melayani kebutuhan biologis Badrun. Khamamah mencoba berontak, tapi apa daya perempuan, sehingga peristiwa terkutuk itu terjadilah. Janda khamamah tak terima perlakuan Badrun, sehingga dengan diantar anak lelakinya dia melapor ke Polres Sumenep. Oknum takmir mesjid ini pun ditangkap. Kini ulah Badrun ramai jadi pembicaraan warga sekecamatan. Bahkan Ny. Badrun, 46, saking malunya kini tak pernah keluar dari kamarnya. Dia bermaksud menggugat cerai suaminya, karena melakukan perbuatan yang memalukan dan mengunduh dosa-dosa akumulatif. Rupanya setannya tak pandang bulu, takmir mesjid pun ditelateni juga. (JPNN/Gunarso TS)
Nah ini dia 15 Desember 2013 Sebagai pengurus takmir mesjid, kelakuan Badrun, 55, memang terlalu amat sangat. Memperkosa saja sudah dosa besar, eh malah dilakukan dalam mesjid pula. Jelas dia akan menyandang dosa akumulatif (gabungan). Karena ulahnya pula, dia jadi urusan polisi Polres Sumenep (Madura). Ditunjuk sebagai takmir mesjid tentunya karena pemahaman agama Islamnya lebih…
