NAH INI DIA: Menolak Diajak Rujuk, Janda Muda Dikepruk Helm
MENTANG-mentang kerjanya PNS penyuluh pertanian, Umiyati, 30, saat diajak rujuk eks suaminya, Pranoto, 35, malah kasih penyuluhan bagaimana jadi suami yang baik.
Mending kalau bersedia rujuk lagi. Karena Umiyati tetap menolak, Pranoto jadi emosi dan janda muda itu pun luka-luka dikepruk helm.
Jadi penyuluh pertanian itu harus pintar ngomong, gaya bicaranya bisa menarik pada petani di pedesaan. Bagaimana cara bercocok tanam yang baik, bagaimana menggunakan pupuk kandang dan pupuk kompos atau pupuk pabrik. Jadi penyuluh pertanian memang harus banyak ilmunya, beda dengan penyuluh welut (mencari belut), asal bawa lampu dan besi pemukul siap terjun ke sawah.
Umiyati yang tinggal di daerah Trowulan Mojokerto, tugasnya sehari-hari memang menjadi penyuluh pertanian di kecamatan yang sama. Sedangkan suaminya, Pranoto, pekerjaannya serabutan di PT Tempo dalam arti tempo-tempo kerja, tempo-tempo nganggur. Untung saja istrinya PNS, sehingga meski penghasilan suami tak menentu rumahtangga tak sampai mengalami krisis ekonomi seperti 98.
Tapi Pranoto yang karakternya emosian, tak mau mensyukuri kelebihan istri ini.
Jika istri pulang kerja sampai telat pastilah ngomel. Padahal gerakan bibir dan gerakan tangan Pranoto itu kompak sekali. Setiap dia ngomel pastilah tangan ikut memukul istri.
Coba, istri cap apa yang mau dijadikan sansak tinju dalam keseharian? Entah apa masalahnya waktu itu, Pranoto tega menghajar istrinya dengan keras.
Sejak itu Umiyati jadi seperti Betaria Sonatha, luka hatinya lupa pula tubuhnya. Maka seperti kisah dalam lagunya Betaria Sonatha tersebut, Umiyati minta dikembalikan pada orang tuanya, tapi tanpa uwo uwo….. alias cerai.
Menjadi duda baru setengah tahun, Pranoto sudah kelimpungan. Sebab sejak saat itu di malam hari tak punya “agenda” lagi. Mau jajan takut dosa dan penyakitnya, sedangkan mau kawin lagi status pekerjaan yang tidak jelas menjadi penghambat untuk mencari istri pengganti. Soalnya, mana ada wanita yang mau jadi istri pengangguran?
Jika jadi suami istri, pastilah pasokan benggol dan bonggol tak pernah seimbang. Maka dengan harus membunuh rasa malunya, dia beberapa hari lalu mendatangi rumah mertuanya, untuk mengajak Umiyati srabi kecemplung kalen, timbang rabi aluwung balen (baca: rujuk).
“Maafkan segala kesalahanku tempo hari, setelah rujuk nanti kita membangun kehidupan baru lagi,” kata Pranoto.
Soal permintaan maaf, langsung saja diproses Umiyati dan bisa diterima. Tapi mengenai klausul rujuk kembali, wah…..tak segampang itu, Cak Lontong!
Soalnya Umiyati sudah kadung trauma akan pukulan swing dan jab dari Pranoto sekitar 6 bulan lalu. Maka ketika eks suami itu minta keputusan, PNS penyuluh pertanian itu justru memberi penyuluhan tentang bagaimana jadi suami yang ideal pada suaminya. Persis Mama Dedeh bakda subuh di Indosiar.
Penyuluhan yang panjang lebar itu dipotong Pranoto dengan pertanyaan, “Dik Umi mau nggak rujuk lagi?” Apa jawab janda muda itu? Umiyati hanya menggeleng.
Begitu juga ketika anak semata wayangnya mau dibawa, bekas istri itu juga menolak.
Dasar Pranoto orangnya memang emosian, langsung saja helm yang dibawanya dikeprukkan ke kepala Umiyati berulang kali. Habis itu langsung kabur karena misinya gagal total.
Luka parah sih tidak, hanya ada benjol-benjol sedikit. Tapi luka hatinya semakin dalam. Maka hari itu juga Umiyati mengadukan Pranoto ke Polsek Trowulan dengan membawa pasal penganiayaan, tapi bukan KDRT wong sudah bukan suami istri.
Benjolnya pakai batuk-batuk dan sesak napas nggak? Hati-hati. (gunarso ts)
MENTANG-mentang kerjanya PNS penyuluh pertanian, Umiyati, 30, saat diajak rujuk eks suaminya, Pranoto, 35, malah kasih penyuluhan bagaimana jadi suami yang baik. Mending kalau bersedia rujuk lagi. Karena Umiyati tetap menolak, Pranoto jadi emosi dan janda muda itu pun luka-luka dikepruk helm. Jadi penyuluh pertanian itu harus pintar ngomong, gaya bicaranya bisa menarik pada petani di…
