NAH INI DIA: Pelakor Berdarah Dingin Berani Melabrak Istri PIL (II)
Ternyata Jaenuri memang bukan tipe lelaki loyalis rumahtangga. Dipancing-pancing Nety yang memang muda nan cantik, langsung goyah imannya. Gadis itu pun ditempel ketat, sehingga pada akhirnya terjadilah pelampiasan syahwat. “Ternyata satu putaran langsung kena, tak perlu pakai politik identitas dan isyu SARA,” kata Nety penuh kemenangan. Resmilah Nety menjadi pelakor. Sebetulnya dia menginginkan Jaenuri tak sekedar bonggolnya, tapi juga benggolnya. Sebab sepertinya suami Hamidah ini banyak duit, dan Nety sendiri hanya pegawai kecil perusahaan swasta. Kasarnya, jadi pelakor target Nety memang bukan sekedar untuk yang di bawah perut, tapi juga perut itu sendiri. Dan lelaki itu memang biasa, setelah kenyang mereguk madu kembang di taman, kemudian meninggalkan. Apa lagi setahun pacaran dengan Nety, defisit anggaran di rumah semakin nyata dan kentara. Maka sudah 3 minggu ini dia tak pernah muncul mendatangi rumah WIL sekalian untuk jowal-jawil. “Disebut jadi Bang Toyib, ya biarkan saja…’ katanya. Tentu saja kecewa berat. Lupa bahwa dirinya sekedar WIL, atau sadar bahwa dirinya memang pelakor, tanpa sungkan dan malu, dia mendatangi rumah Jaenuri di Kelurahan Petanang. Tanpa basa-basi langsung saja menanyakan, di mana suamimu, kok sudah 3 minggu tak pernah datang ke Pelita Jaya. “Lha Anda siapa?” tanya Ny. Hamidah. Bila wanita lain akan berbohong menutup dirinya, Nety malah terus terang. “Apa kamu belum tahu, sayalah WIL suamimu.” Tentu saja Hamidah kaget dan kemudian terjadilah cekcok mulut. Tapi Nety yang sudah kepalang basah malah nekad, bini Jaenuri itu malah dihajar dengan tangan kosong. Habis itu pergi begitu saja seperti tanpa dosa. Maka Hamidah pun melapor ke Polsek dan Nety pun ditangkap. Kalau begini, Jaenuri yang suka begituan di luar, pastinya hanya bisa begita-begitu. (gunarso ts)
Ternyata Jaenuri memang bukan tipe lelaki loyalis rumahtangga. Dipancing-pancing Nety yang memang muda nan cantik, langsung goyah imannya. Gadis itu pun ditempel ketat, sehingga pada akhirnya terjadilah pelampiasan syahwat. “Ternyata satu putaran langsung kena, tak perlu pakai politik identitas dan isyu SARA,” kata Nety penuh kemenangan. Resmilah Nety menjadi pelakor. Sebetulnya dia menginginkan Jaenuri tak…
