NAH INI DIA: Gara-Gara Dukun Sakti Impor, Dua Gadis ABG Malah Disosor
ADA rektor impor, kini ada pula dukun sakti impor. Pengimpornya Mang Dudung, 58, dari Bandung. Demi sembuhkan dua putrinya yang diduga kena santet, dukun sakti Sugiknur, 41, “diimpor” langsung dari Tangerang. Tapi apa hasilnnya? Justru dua gadis itu dinodai si dukun impor yang sekaligus cabul. Daging impor biasa terdengar, begitu juga beras impor. Yang baru, pemerintah hendak mengimpor rektor agar PTN kita bisa kelas dunia. Di kala impor rektor masih menimbulkan pertentangan, kini ada juga dukun “impor”. Maksudnya, dukun itu diambil dari satu kota, dibawa ke kota lain untuk mengobati suatu penyakit. Manjurkah, walahualam. Importirnya Mang Dudung dari Bojongsoang Bandung, sebagai tanggungjawab akan masa depan anak-anaknya. Coba, orangtua cap apa yang takkan bersedih jika dua putrinya, Hana, 16, sama Hani, 14, kompak sakit bingung-bingung, yang kata orang-orang akibat ulah dukun santet. Kemudian ada tetangga yang memberi tahu bahwa di Periuk Tangerang, ada dukun peng-pengan yang mampu mengobati korban guna-guna seperti Hana-Hani. Katanya, Sugiknur paranormal tulen, tidak main politik apa lagi nggrecokin pemerintah. Tentu jampi-jampinya lebih manjur. Jika membawa kedua anaknya yang dalam kondisi tidak normal, pastilah merepotkan. Maka Mang Dudung mendelegasikan tetangga untuk menjemput dukun sakti Sugiknur ke Bandung. Berapa ongkosnya tak masalah, yang penting dukun Sugiknur mampu menyembuhkan penyakit yang selama ini gagal disembuhkan. Biaya juga sudah habis-habisan, karena korban santet tak dikaver oleh BPJS Kesehatan. Sehari kemudian dukun sakti Sugiknur datang dengan segala peralatan, termasuk telur ajaib penanda dan penangkal santet. Begitu melihat Hana-Hani, sang dukun manggut-manggut. Tak diketahui jelas, manggut-manggutnya karena menganggap penyakit itu terlalu berat, atau karena memikirkan yang lain. Dukun Sugiknur minta waktu terapi selama 3 hari, Insya Allah semua lancar, santet lenyap, dua ABG akan kembali sehat walafiat, kembali ke sekolah masing-masing. Rajin belajar, patuh dan taat pada perintah Pak/Bu Guru, dan tidak ikut-ikutan demo seperti kakak-kakaknya yang mahasiswa. Keduanya tak diterapi serentak, wong memang bukan Pilkada. Pertama kali Hanum, di kamar terapi dimandikan dengan kembang 7 rupa, yang airnya merupakan campuran air 7 sungai. Dijamin tak termasuk kali Sekretaris yang selama ini dijadikan arena pembuangan tinja warga Tanjungduren Utara, Jakbar. Telur ajaibnya dikeluarkan, lalu dukun Sugiknur memijit Hana yang kini dalam kondisi sudah bugil bak singkong habis dikupas. Yang sungguh di luar dugaan, terapi lanjutan itu berupa persetubuhan bak suami istri. “Tenang saja, ini cara saya mengusir si santet,” kata dukun Sugiknur, karena awalnya Hana mencona menolak. Sukses menerapi kakaknya, 3 jam kemudian adiknya juga diterapi dengan metode dan cara yang sama. Walhasil malam itu dukun Sugiknur berhasil mencetak 2 gol sekaligus, bagaikan Persita lawan Maung Bandung saja laiknya. Bedanya, main bola ala dukun Sugiknur tak berlangsung di lapangan hijau. Namun ternyata, sampai dukun Sugiknur dipulangkan ke Tangerang, dua ABG kakak beradik itu tak ada kemajuan, bahkan sepertinya tambah stress. Setelah ditanyai oleh orangtua, mereka mengaku bahwa saat terapi digauli dukun Sugiknur dengan alasan untuk mengusir santetnya. Keruan saja orangtuanya segera melapor ke Polsek Bojongsoang dan kemudian diteruskan ke Polsek Jatiuwung untuk menangkap sidukun cabul. Dukun beginian suka begituan, banyak temannya. (gunarso ts)
ADA rektor impor, kini ada pula dukun sakti impor. Pengimpornya Mang Dudung, 58, dari Bandung. Demi sembuhkan dua putrinya yang diduga kena santet, dukun sakti Sugiknur, 41, “diimpor” langsung dari Tangerang. Tapi apa hasilnnya? Justru dua gadis itu dinodai si dukun impor yang sekaligus cabul. Daging impor biasa terdengar, begitu juga beras impor. Yang baru, pemerintah…
