NAH INI DIA: Jika Pemilik Pantai Asuha Sedang Kehausan Asmara
WAYAN KLOSTER, 50, memang keterlaluan. Mengelola panti asuhan bukan untuk menolong yatim piatu, tapi justru untuk memanjakan syahwatnya. Bayangkan, 9 anak asuhnya yang masih ABG dan berwajah bening, bergantian dicabulinya. Bahkan salah satu sampai hamil, tapi konpensasinya cuma bibit babi yang tidak ngepet. Bikin yayasan untuk menolong yatim piatu, sungguh pekerjaan mulia. Menolong sesamanya tanpa mengharapkan profit. Bila dikelola dengan benar, Dinas Sosial dan swasta akan membantu. Usaha di jalan Tuhan memang banyak diberi kemudahan. Dalam Qur’an pun Allah Swt mengingatkan, menolong anak yatim memperlancar rejeki. (Surat Al Fajr 15-17). Di Kabupaten Buleleng Bali, banyak berdiri panti asuhan, baik yang Islam maupun non Islam. Dari 14 panti asuhan di sana, salah satunya yang dikelola oleh Wayan Kloster di Gerokgak. Sayangnya dia mendirikan panti asuhan ternyata beda niatnya. Bukan untuk beramal di jalan Tuhan, justru untuk memanjakan kebutuhan jalan ……bayi! Bagaimana tidak? Ketika anak pantinya sudah nampak gede dan kinclong, satu persatu dicabuli untuk penyaluran kebutuhan biologisnya yang benar-benar tidak logis. Skandal ini terungkap ketika sejumlah korban mengadu ke sebuah LSM. Empat anak ABG itu mengaku bahwa dinodai oleh Wayan Kloster, pemilik panti asuhan. Salah satu korban Made Surati, 15, mengaku digauli Wayan sampai hamil. Tapi dia tak mau tanggungjawab. Made hanya diminta untuk menggugurkan kandungannya. Untuk itu dia diberi “perangsang” berupa bibit anak babi beberapa ekor. Kelewatan sekali memang Wayan Kloster ini. Dia lebih menghargai bibit babi ketimbang “bibit”-nya sendiri yang ditebar ke mana-mana. Diperkirakan korban kebiadaban Wayan Kloster ini sembilan orang. Namun demikian polisi belum mencomot pemilik panti asuhan itu. Kini polisi Polsek Gerokgak masih mengadakan penyelidikan, mengumpulkan barang bukti dan saksi. Bila semuanya telah terpenuhi barulah Wayan Kloster dipanggil dan diperiksa. Lalu jadi tersangka dan Wayan diberi seragam Rompi oranye. (Gunarso TS)
WAYAN KLOSTER, 50, memang keterlaluan. Mengelola panti asuhan bukan untuk menolong yatim piatu, tapi justru untuk memanjakan syahwatnya. Bayangkan, 9 anak asuhnya yang masih ABG dan berwajah bening, bergantian dicabulinya. Bahkan salah satu sampai hamil, tapi konpensasinya cuma bibit babi yang tidak ngepet. Bikin yayasan untuk menolong yatim piatu, sungguh pekerjaan mulia. Menolong sesamanya tanpa…
