NAH INI DIA: Menjadi Praktisi Poligami Cuma Kuat Di Onderdil

Perhatian bagi para praktisi poligami. Jika hanya kuat di onderdil tanpa diimbangi materil, jangan coba-coba. Contohnya si Sumanto, 51, dari Pasuruan. Pusing ngempani dua istri, lelaki penganggur ini nekad mencuri kambing. Tapi resikonya, ketika ketahuan warga Sumanto babak belur dihajar sampai wajah simpang siur. Ngaku saja terus terang, praktisi poligami mayoritas motifnya karena ingin memanjakan syahwat. Maaf kata, sebetulnya kaum lelaki itu seperti kambing, kalau bisa semua perempuan cantik mau digauli. Tapi karena keterbatasan, akhirnya nrima satu saja. Ibaratnya gamelan begitu, mampunya hanya slendro, ya sudah slendro saja nggak usah mikir yang pelog. Karena punyanya hanya satu pangkon (set), biar sudah blero (sumbang) ya tetap dithuthuki (dipukul) terus sampai penyok-penyok. Yang aneh kan Sumanto ini, hanya petani miskin tanpa dasi, berani-beraninya berbini dua. Terpengaruh Puspo Wardoyo juragan ayam bakar ngkali, dengan motto banyak istri banyak rejeki, dia memantapkan diri mengambil istri lebih dari satu. Katanya, mumpung belum terkena pajak progresif sebagaimana pemilik mobil. Ketika masih anyar, dengan dua bini asyik juga. Bini pertama sedang palang merah, menggilir istri kedua, begitu pula sebaliknya. Tapi setelah berjalan 3 bulan, rasanya sama saja. Jadi benar kata orang, perempuan itu memang tak ubahnya kue biskuit, bentuk dan warna boleh macem-macem, tapi rasanya sama saja! Menginjak bulan ke-6 dengan dua isrtri, Sumanto mulai keteteran. Jika eks politisi Demokrat Tridianto dari Cilacap berani berbini tiga, karena dia pengusaha jamu. Sedangkan Sumanto ini apa, jadi petani saja hanya penggarap, bukan lahan sendiri. Tambah-tambah sekarang pas tak ada pekerjaan, jadi dia jadi pusing bagaimana harus memberi belanja dua dapur sekaligus. Akhirnya lelaki dari Desa Paku Kerto Kecamatan Sukorejo ini lagaknya seperti DPR di Senayan saja. Ketika istri pertama mengajukan anggaran belanja, semua dibintangi alias ditunda. Begitu pula usulan dari bini kedua, juga tak bisa diluluskan karena kondisi keuangan sedang berdarah-darah. Ketika didesak kedua istrinya, malah ngeloyor pergi. Ditanya mau ke mana mas, jawabnya: mbolos mau kunjungi dapil. Namanya juga niru anggota DPR. Kepergian Sumanto siang itu ternyata mau cari utangan, agar dapur tetap bisa ngebul. Pas di jalan sepi, dia melihat ada seekor kambing gemuk dan gede. Ingat kondisi ekonomi di rumah, Sumanto segera menghentikan sepeda motornya. Kambing itu ditangkap dan dimasukkan ke dalam karung. Tapi baru saja dia mensater motor, ketahuan oleh pemiliknya. Kontan Sumanto diteriaki: maling, maling, maling! Sejumlah penduduk segera mengejarnya dengan sepeda motor pula, sehingga pas di daerah Mindi bisa terkejar dan ditangkap. Tak ayal lagi Suminto jadi bulan-bulanan warga. Untung saja ada polisi yang melihatnya, sehingga kekejaman para pengeroyok itu bisa dihentikan. Sebelum dilarikan ke rumahsakit Pusdik Gasum, Suminto sempat ditanyai polisi. ”Bini saya dua Pak, sedangkan saya masih nganggur. Terpaksa nyolong wedus.” akunya sambil merintih kesakitan. Makanya, jangan ngumbar nafsu macam wedus! (SP/Gunarso TS)

Perhatian bagi para praktisi poligami. Jika hanya kuat di onderdil tanpa diimbangi materil, jangan coba-coba. Contohnya si Sumanto, 51, dari Pasuruan. Pusing ngempani dua istri, lelaki penganggur ini nekad mencuri kambing. Tapi resikonya, ketika ketahuan warga Sumanto babak belur dihajar sampai wajah simpang siur. Ngaku saja terus terang, praktisi poligami mayoritas motifnya karena ingin memanjakan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *