NAH INI DIA: Bila Miskin Ekonomi Jadikan Orang Miskin Jodoh
KEMISKINAN ekonomi memang bisa menimbulkan akibat multidimensi. Seperti Mukidin, 30, dari Pekanbaru ini contohnya, naksir gadis cantik ditolak melulu. Bahkan naksir sepupu sendiri, Muryati, 20, ditampik juga. Saking dongkolnya, ketika gadis pujaan itu dikawin orang, dendam itu akhirnya berujuang pembunuhan. Kemiskinan memang bisa menimbulkan akibat multidimensi. Gara-gara miskin ekonomi, orang bisa menjadi miskin pendidikan, miskin kesehatan, miskin budaya. Bila sudah demikian, banyak yang kemudian menjadi miskin akidah atawa imtak (iman dan takwa). Hanya karena sering diberi kupon beras 5 Kg saja, langsung tinggalkan mesjid dan berpindah ke agama lain. Tadi namanya Ahmad Murtadho, jadi murtad amat! Tapi Mukidin dari Kelurahan Palas, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, dampak kemiskinan ekonomi itu telah pula menyebabkan miskin jodoh. Hingga usia kepala tiga, tak ada cewek yang mau ngambus (baca: mendekati) dirinya. Setiap dia melobi seorang gadis, tak ada yang sudi dipacari baik untuk sementara maupun permanen menjadi istri. Soalnya ya itu tadi, katanya pacaran tak mau keluar modal. Si cewek minta durian, jawab Mukidin enteng saja, ”Besuk nanam sendiri, kamu boleh makan sepuasnya.” Bukannya Mukidin pelit, tapi memang tak punya kost. Bagaimana dia punya duit, wong pekerjaannya tak jelas, bila tak mau disebut pengangguran. Dalam persaingan global cewek-cewek yang bersemboyan ”witing tresna merga atusan lima” (materialistis), Mukidin semakin terpinggirkan. Akibatnya sangat fatal, teman seangkatan sudah bergantian menikah, dia di kamar tiap malam gedabigan (gelisah) sendiri. Berburu gadis lintas kampung sangatlah susah, Mukidin mendekati Muryati yang masih keluarga dekat. Siapa tahu, saudara sepupu itu nantinya bisa diajak adu pupu (paha). Tapi ternyata idem dito, perjaka lapuk itu diveto mentah-mentah gara-gara madesur (masa depan suram). Yang paling menyakitkan, katanya Muryati beralasan masih mau melanjutkan sekolah, ternyata dua bulan kemudian menikah dengan cowok lain. Mestinya, jika pujaan hati diambil orang, ya sudahlah mencari yang lain lagi. Tapi Mukidin bukan begitu. Dia masih menelateni terus, termasuk ketika Muryarti sudah punya anak. Cari celah dan peluang terus. Benar-benar Mukidin sudah seperti Burisrawa wayang kulit, meski Sembadra telah punya anak Abimanyu, masih ditunggu juga jandanya. Beberapa hari lalu Muryati yang cantik, sekel nan cemekel itu tiba-tiba meninggal dengan cara mengenaskan, tubuh penuh luka bacokan. Kecurigaan pun mengarah pada Mukidin yang belakangan suka ngglibet ke rumah Muryati. Kata para tetangga, Mukidin suka mencuri-curi untuk memotret segala aktivitas wanita idola itu. ”Katanya, dia tak bisa melupakan Muryati sampai kapanpun,” ujar warga pada polisi. Dugaan itu makin menguat karena Mukidin memang menghilang sejak kejadian tersebut. Berkat kerja keras polisi, hanya dalam sehari dia sudah berhasil ditemukan termasuk barang bukti golok berdarah. Dalam pemeriksaan di Polsek Rumbai Mukidin berterus terang, ada bisikan gaib yang mendorong dia harus mengeksekusi Rumiyati dengan goloknya. Tega mengeksekusi karena menolak koalisi, kan? (JPNN/Gunarso TS)
KEMISKINAN ekonomi memang bisa menimbulkan akibat multidimensi. Seperti Mukidin, 30, dari Pekanbaru ini contohnya, naksir gadis cantik ditolak melulu. Bahkan naksir sepupu sendiri, Muryati, 20, ditampik juga. Saking dongkolnya, ketika gadis pujaan itu dikawin orang, dendam itu akhirnya berujuang pembunuhan. Kemiskinan memang bisa menimbulkan akibat multidimensi. Gara-gara miskin ekonomi, orang bisa menjadi miskin pendidikan, miskin…
