NAH INI DIA: Perjanjian Dengan Dukun Sudah Jatuh Tempo

Sebagai dukun cabul, Sarmad, 39, cukup sabar menyiasati calon korbannya. Dengan alasan bisa bikin kaya, dia mampu meyakinkan Ny. Yoyoh, 25, dari Karawang. Selama 30 hari dia menjalani ritual bersama Sarmad. Dan pas hari ke-40 saatnya jatuh tempo ritual tersebut, Ny. Yoyoh siap disetubuhi sebagai bagian dari ritual. Tetapi………… Kenapa ya, namanya dukun jika tidak cabul sepertinya kok kurang afdol. Memang tak semua dukun begitu, tapi sepertinya yang cabul sama yang tidak cabul prosentasenya 50:50. Cuma bedanya, jika yang bener itu dukun atau paranormal yang asli, untuk yang cabul kebanyakan hanya dukun abal-abal. Sebab baginya, dukun itu kepanjangan: urusan yang syahdu sangat tekun! Sarmad rupanya termasuk kategori yang terakhir ini. Warga Desa Bungin Kecamatan Pakisjaya ini sudah lama mengincar Yoyoh, warga tetangga desa di Telukbuyung. Maklum, wajah dan bodi perempuan itu memang sangat menjanjikan. Jika pinjam iklan kopi kemasan, Yoyoh memang sangat bikin deg-degan, tapi sangat nyaman di bawah lambung! Tapi bagaimana untuk mendapatkannya? Di samping perempuan itu sudah menjadi milik orang, dia sendiri sudah kartu mati, karena usianya nyaris kepala empat dan di rumah sudah ada bini. Ya dipologami saja! Mana bisa. Sudah diceraikan pun, Sarmad tak yakin bisa mendapatkannya. Sebab untuk poligami kan bukan saja kuat di onderdil, tapi juga kuat di materil (ekonomi). Untuk urusan selangkangan, rupanya otak Sarmad cukup briliyan. Sekitar sebulan lalu dia bertamu ke rumah Yoyoh. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Enjum, 30, suami wanita tersebut, dia menawarkan ilmu yang bisa membuat orang kaya dalam tempo cepat. Entah kenapa, kepada lelaki tetangga desa yang mengaku dukun itu Enjum kok langsung percaya. Apa lagi dia sendiri memang sudah bosen jadi orang miskin. Mau kaya lewat jadi anggota DPR, ijazahnya hanya SMP, mana bisa. Persyaratan yang ditawarkan Sarmad tidak terlalu berat. Asalkan dia mengijinkan istrinya, dibawa menjalani ritual di sebuah tempat selama 40 hari, sudahlah cukup. Nanti pulang-pulang kan sudah ada perubahan ekonomi yang signifikan. ”Sekarang terserah sampeyan. Mau jadi orang kaya, atau tetap orang miskin yang sekali-sekali dapat Balsem dari pemerintah,” kata Sarmad setengah mendesak calon korbannya. Setelah konsultasi dengan sang istri, semuanya ternyata oke. Jadilah Yoyoh yang cantik, sekel nan cemekel itu dibawa pergi Sarmad. Ke mana saja mau dibawa, dia tak mau menjelaskan, karena itu termasuk rahasia perdukunan. Yang penting nanti pulang-pulang sudah ada perubahan. Bila Jokowi mau bikin Jakarta Baru, nanti Sarmad siap bikin Enjum Baru. Tiga puluh hari kemudian, Sarmad – Yoyoh sudah kembali. Sudah kayakah keluarga Enjum, ya belum. Kan masih kurang 10 hari lagi. Setelah si dukun pergi, barulah Yoyoh bercerita tentang pengembaraannya selama 30 hari. Ternyata selama pergo tersebut banyak prosesi yang dijalani pakai colak-colek yang mengarah cabul. “Tapi ”aset nasional”-mu masih aman, Kang.” Kata Yoyoh memberi jaminan. Sepuluh hari kemudian Sarmad datang lagi. Katanya ini hari jatuh tempo dari ritual selama 40 hari tersebut. Klimaks dari prosesi ritual itu, dia minta Enjum merelakan istrinya disetubuhi seperti layaknya suami istri. Sebab ini merupakan kunci terakhir untuk menggapai sukses dalam berburu kekayaan. Tentu saja Enjum tak mengizinkan. Bahkan dia teriak mengumpulkan warga. Dalam tempo cepat Sarmad jadi bulan-bulanan warga. Jika saja polisi Polsek Pakisjaya tak segera datang, dukun cabul itu mungkin tinggal jadi abu dibakar warga. Lalu dibuat abu gosok cap Sarmad. (JPNN/Gunarso TS)

Sebagai dukun cabul, Sarmad, 39, cukup sabar menyiasati calon korbannya. Dengan alasan bisa bikin kaya, dia mampu meyakinkan Ny. Yoyoh, 25, dari Karawang. Selama 30 hari dia menjalani ritual bersama Sarmad. Dan pas hari ke-40 saatnya jatuh tempo ritual tersebut, Ny. Yoyoh siap disetubuhi sebagai bagian dari ritual. Tetapi………… Kenapa ya, namanya dukun jika tidak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *