NAH INI DIA: Pak Guru Komersilkan Nilai Peserta Didik Digauli Paksa

OTAK Pak Guru Putu Raka, 38, dari Bali ini sungguh ngeres. Ketemu peserta didik yang cantik, lalu mengkomersilkan nilai. Dia baru mau beri nilai bagus untuk Made, 17, asalkan mau digaulinya. Takut nilai jelek bakal dimarahi orangtua, dia pun menurut. Kini kasusnya sudah jadi urusan pengadilan. Tak enak kan baca judul tulisan ini. Mau bilang murid saja kok ditulis jadi “peserta didik”. Bagaimana dengan wali murid? Sekarang otomatis ya jadi: wali peserta didik. Dan itu memang maunya pakar-pakar kita di Kemendikbud. Biar lebih keren, sekarang murid diganti jadi peserta didik. Rakyat jadi bingung kan? Tapi itulah hasil mahakarya pakar, yang sekarang suka diplesetkan jadi: apa-apa dibikin sukar! Seorang peserta didik di Denpasar, mungkin baru Made yang merasakan. Kecantikan yang dimiliki justru jadi penghalang untuk menjadi anak pandai. Gara-garanya, Pak Guru Putu mengancam dirinya, “Kalau kamu pengin nilai bagus, harus mau saya gauli bak suami istri.” Padahal biasanya dan yang normal, nilai bagus murid eh……peserta didik, diperoleh ketika ilmu-ilmu yang diajarkan guru mampu diserapnya dengan baik. Jika dia lamban menangkapnya, nilainya sedang atau bahkan di bawah enam. Maka sikap dan kebijakan Pak Guru Putu ini, jika Asmuni Srimulat masih hidup, pasti akan dipertanyakan, “Ini pak guru cap apa?” Di sekolahnya, sebuah SMA di kota Denpasar, Made memang terhitung murid ….  eh peserta didik yang cantik. Nah, Pak Guru Putu diam-diam tertarik berat pada ABG itu, padahal di rumah sudah punya istri juga. Tapi begitulah sisi buruk  pria. Di rumah sudah ada gudeg, di luar ada timlo ya disosor juga. Di rumah makan pakai beras raja lele, masih pengin juga beras mentik yang katanya pulen. Mau memacari gaya anak muda seperti lazimnya, jelas tidak mungkin. Maka Pak Guru pun mencoba mengkomersilkan nilai-nilai yang jadi kekuasaaanya. Sekali waktu dia sengaja memberi nilai tidak bagus pada peserta didiknya yang satu ini. Tentu saja Made protes, wong sepengetahuannya mapelnya Pak Putu bisa diikuti dengan baik. “Kalau kamu pengin nilai bagus, mau nggak ginian sama saya?” kata Pak Guru koplak. Awalnya Made menduga itu hanya candaan yang kurang ajar. Tapi ternyata Pak Putu Raka serius. Artinya, dia akan dapat nilai bagus asalkan mau diajak bersetubuh sebagaimana layaknya suami istri. Setelah dipikir dan dipertimbangkan macam Prabowo menyeleksi Cawapres PKS, akhirnya Made bersedia ketimbang dimarahi orangtua selaku wali peserta didik. Sejak itu Made sering diajak ke berbagai hotel di Denpasar, untuk sekedar dapat nilai bagus. Sekarang mapel Pak Putu selalu dapat 8 atau 9, tapi kadung hilang itu perawan! Dan kegembiraan Made tak berlangsung lama, sebab ada orang yang melaporkan kelakuan guru Putu ke polisi. Skandal di sekolah SMA itu akhirnya jadi urusan pengadilan. Sebentar lagi guru Putu akan jadi terdaksa di PN Denpasar. Pasalnya pasti bukan “perbuatan yang menyenangkan”. (JPNN/Gunarso TS)

OTAK Pak Guru Putu Raka, 38, dari Bali ini sungguh ngeres. Ketemu peserta didik yang cantik, lalu mengkomersilkan nilai. Dia baru mau beri nilai bagus untuk Made, 17, asalkan mau digaulinya. Takut nilai jelek bakal dimarahi orangtua, dia pun menurut. Kini kasusnya sudah jadi urusan pengadilan. Tak enak kan baca judul tulisan ini. Mau bilang murid…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

chancer casino