NAH INI DIA: Meski Hanya Dapat Jandanya Tetap Ditunggu dengan Setia

JIKA cinta sudah melekat, ditunggu terus sampai kiamat. Begitulah sikap Dalmadi, 40, warga Bandung ini. Ketika dengar Wiwik, 38, mau bercerai dari Muhadi, 42, dia siap “oper garap”. Dia memang sejak SMA telah naksir Wiwik, tapi kalah bersaing. Tiba-tiba kini peluang terbuka lagi, maka tak boleh disia-siakan. Jodoh, rejeki dan kematian itu hak prerogratif Allah Swt. Maka banyak kejadian, meski cintanya sudah ngepol, tapi gagal menjadi suami istri. Tiba-tiba peluang muncul lagi, sekian puluh tahun kemudian, ketika si doi jadi janda. Namanya juga cinta, biar sudah sisa orang disikapi dengan kata, “Aku ra papa.” Jadilah mereka suami istri, meski akhirnya hanya dapat banyak kelonggaran. Peruntungan Dalmadi, rupanya seperti itu juga. Saat duduk di SMA Surabaya dulu, dia pernah naksir berat adik kelasnya, Wiwik. Karena cantik, sudah barang tentu banyak pesaingnya. Ada pegawai bank, pegawai Perikanan, Dinas PU bahwa juragan lombok. Kebetulan Dalmadi ini paling jelek di antara para kontestan. Walhasil tersisih, dan kabarnya Wiwik menikah dengan Muhadi. Waktu terus berlalu. Rumahtangga Wiwik – Muhadi ternyata tidak bahagia. Masalahnya suami istri ini tak juga diberi momongan, apa lagi Muhadi kerjanya tak menetap di Surabaya, pindah-pindah terus sehingga tak pernah mau membawa istrinya sekalian. Hanya sebulan sekali dia pulang dalam rangka setor benggol dan bonggol. Muhadi ini orangnya santai, sama santainya ketika mendengar istrinya dulu banyak ditaksir cowok dan kini satu dua muncul di permukaan. Dia memang punya prinsip, “Biar saja mereka kalangkabut naksir istriku, tapi kini yang memiliki dan menikmati kan diriku seorang.” Sikap santai Muhadi rupanya semakin menjadi-jadi. Sampai-sampai, ketika Wiwik memberikan opsi bercerai saja karena tak dikaruniai momongan, Muhadi juga menyikapi dengan kepala dingin. Agaknya dia menyadari bahwa selama ini tak mampu memberikan kebahagiaan lahir-batin pada istrinya, maka Muhadi hanya mengatakan silakan saja bila itu menjadi pilihan yang terbaik. Calon janda warga Semolowaru Surabaya ini benar-benar kaget dengan sikap suaminya. Kok begitu sih? Tapi ya sudah, Wiwik pun mulai menengok kembali arsip cinta lamanya, yang kini sering ketemu saat reuni SMA dan perguruan tinggi. Apa yang Dinas Perikanan & Kelautan, apa yang Kepala PU, apa yang juragan lombok di Pasar Blauran? Woo, semuanya masih punya istri! Yang memungkinkan justru Dalmadi, PNS di Bandung yang dalam status duda. Wiwik tahu persis, dia ini dulu juga mati-matian menaksir dirinya, tapi karena terjelek dari yang lain, akhirnya proposal cintanya dimasukkan laci saja. Lha kok sekarang, secara ekonomi Dalmadi justru paling mapan dan sukses. Nggoreng klentheng kok gosong kabeh, ben gak nggantheng dhuwite akeh; begitu prinsip Wiwik kemudian. Maka kini Dalmadi sering mondar-mandir naik KA Mutiara Selatan Bandung-Surabaya PP untuk menemui “mutiara”-nya yang sempat hilang puluhan tahun lalu. Begitu proses perceraian dengan Muhadi selesai, Wiwik siap “dioper garap” atau berkoalisi dengan Dalmadi dan pindah tempat tinggal di Bandung. Sudah berkoalisi, disusul dengan eksekusi, duh asyiknya. (JPNN/Gunarso TS)

JIKA cinta sudah melekat, ditunggu terus sampai kiamat. Begitulah sikap Dalmadi, 40, warga Bandung ini. Ketika dengar Wiwik, 38, mau bercerai dari Muhadi, 42, dia siap “oper garap”. Dia memang sejak SMA telah naksir Wiwik, tapi kalah bersaing. Tiba-tiba kini peluang terbuka lagi, maka tak boleh disia-siakan. Jodoh, rejeki dan kematian itu hak prerogratif Allah Swt.…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

chancer casino