NAH INI DIA: Dasar Si Kakek Sableng Habis Perkosa Malah Cerita

Bagi Mbah Kayat, usia 71 tahun berhasil menggauli gadis usia 16 tahun, itu sebuah pretasi. Akhirnya dia dengan bangga malah cerita ke mana-mana, seperti habis makan di RM Padang saja. Giliran cerita itu sampai ke orangtua si gadis, tentu saja jadi masalah. Kini Mbah Kayat hanya bisa menyesal, karena jadi urusan polisi. Pernah makan di RM Padang? Di atas pintu keluar biasanya ada tulisan pendek: “bila enak beritahu teman, bila tidak enak beritahu kami”. Itu adalah kiat berpromosi yang murah, tapi cukup mengena. Sebab tanpa diminta pun biasanya orang ketika ketemu rumahmakan enak pasti akan cerita pada sanak keluarga dan handai taulan. “Rumah makan dekat lampu merah sana itu enak, murah lagi,” begitu biasanya orang berkisah. Mbah Kayat yang seumur-umur tidak pernah masuk lestoran (begitu lidah jawa menyebut), rupanya juga punya kebanggaan atas apa saja yang baru dimakan. Celakanya, yang diceritakan ini bukan soal nasi liwet dengan beras rajalele dari Delanggu, tapi justru ketika dia habis “makan” anak gadis orang. Wah, tentu saja urusannnya jadi panjang. Kakek-kakek dari Dusun Krajan, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi ini memang doyan ngomong. Dalam pertemuan apa saja, asal ada Mbah Kayat mesti menjadi heboh dan hingar bingar. Padahal yang diceritakan hal-hal yang sepele, tak ada pesan moral apalagi muatan politis. Semua sekedar obrolan warung kopi. Paling celaka, selain doyan ngomong Mbah Kayat ini juga doyan perempuan. Serius! Meski usia sudah bau tanah, dalam kondisi hidup menduda ternyata dia masih membutuhkan seorang wanita. Bukan sekedar untuk “kanca glenik-glenik” (teman curhat) tapi juga untuk obat anget semacam binteng jahe atau jamu gandring. Sebetulnya Mbah Kayat masih ingin menikah lagi, tapi mana ada yang mau? Kakek miskin begitu apa lagi yang bisa dialap (dimanfaatkan)? Mungkin pusing tak ada medan penyaluran, sekitar sebulan lalu dia nekad memperkosa seorang gadis tetangga desa. Mujur, kelakuan jahat Mbah Kayat tak diketahui orang, karena si korban juga patuh pada konsensus: tidak akan cerita ke mana-mana, termasuk suket godong (dedaunan) yang menjadi saksi selama ini. Beberapa hari lalu ada acara slametan kematian di rumah tetangga. Sebelum para peserta kenduri datang lengkap, sambil bisik-bisik dia bercerita pengalamannya yang spektakuler, yakni pernah memperkosa gadis cantik anak tetangga desa. Rupanya Mbah Kayat terbius oleh pesan RM Padang, atau juga panas karena diledek teman bahwa setelah hidup menduda “burung”-nya tak pernah lagi bernyanyi trilili lili……. “Ben wis tuwa, akuh isih rosa-rosa kaya Mbah Maridjan,” begitu katanya. Tak tahunya, kata-kata itu ada yang mencatat dalam hati, dan kemudian disampaikan kepada keluarga si gadis yang katanya pernah diperkosanya. Ketika dicek, ternyata sambil menangis gadis Ratimi, 16, mengaku memang pernah diperkosa oleh Mbah Kiyat. Tentu saja ayah dan ibu tidak terima, sehingga melapor ke Polsek Glenmor. Polisi bertindak cepat. Ratimi diminta menghubungi Mbah Kiyat agar datang di satu tempat. Yakin bahwa akan diajak “tanding ulang”, kakek yang tak sadar sedang dipancing itu datang. Tak ayal lagi dia langsung ditangkap dan diperiksa di Polsek Glenmore. Awalnya mencoba berkelit, tapi karena keterangan Ratimi sangat meyakinkan, Mbah Kiyat tak lagi bisa berkutik. Makanya Mbah, mulutmu akan jadi harimaumu! (JPNN/Gunarso TS)

Bagi Mbah Kayat, usia 71 tahun berhasil menggauli gadis usia 16 tahun, itu sebuah pretasi. Akhirnya dia dengan bangga malah cerita ke mana-mana, seperti habis makan di RM Padang saja. Giliran cerita itu sampai ke orangtua si gadis, tentu saja jadi masalah. Kini Mbah Kayat hanya bisa menyesal, karena jadi urusan polisi. Pernah makan di…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *