NAH INI DIA: Itik Saja Tak Mau Poliandri, Masak Orang Mau Mencoba?
SEBAGAI penggembala itik, Hambali, 40, tahu persis bahwa unggas berkaki dua itu tak mau poliandri, maunya poligami saja. Lha kok istrinya Rochayati, 35, coba-coba punya PIL, bentuk lain dari poliandri. Hambali langsung naik pitam, dan istri hasil kawin siri itu dibunuhnya dan mayat dibuang ke kali.
Meski kita tiap hari makan telur, baik telur itik maupun telur ayam negeri, tentunya tak pernah membayangkan bagaimana itik itu bisa bertelur. Tapi bagi para penggembala itik, dia tahu persis bahwa itik bisa bertelur banyak jika banyak digembalakan di sawah yang habis panen. Banyak makan padi sisa, pastilah si itik jadi cepat bertelur.
Hambali warga Pinrang (Sulsel) juga berprofesi sebagai penggembaka itik. Makanya dia tahu persis karakter itik-itik yang digembalakannya. Dalam satu giringan, jumlahnya bisa sampai 50 ekor.
Pejantannya hanya seekor, dia berkewajiban mengawini 49 ekor itik betina yang masuk dalam kawanan atau rombongannya. Tugas yang sangat menyenangkan tentunya.
Anehnya, itik-itik betina tak pernah cemburu ketika sang pejantan mengawini itik-itik yang lain. Dia tak pernah merasa terancam jika itik pejantan itu memberikan penghasilannya pada itik betina yang lain.
Itik tak pernah berpikir ke sana-sana, karena jaminan hidup berupa gabah atau gaplek, yang memberikan adalah pemilik bebek itu sendiri.
Maka sebagai penggembala itik, Hambali kaget luar biasa begitu dapat info bahwa istri sirinya, Rokhayati, punya PIL atau lelaki lain. Orang kok kalah loyal dengan bebek-bebek betina piaraannya.
Bebek betina tak pernah berusaha mencari bebek jantan lain, lha kok istrinya malah mencari lelaki lain. “Ternyata bebek lebih bermartabat ketimbang istriku,” gumamnya dalam hati.
Hambali pernah menegur Rochayati, tapi malah didebat, “Alah, hanya kawin siri saja kok maunya monopoli bini.” Bahkan, istri siri itu kemudian menuntut agar dinikah resmi lewat KUA.
Toh, sekarang perkawinan bisa gratis sepanjang akad nikahnya di KUA, bukan bedholan di rumah.
Tentu saja Hambali tak berdaya didebat sedemikian rupa. Nikahnya di KUA memang gratis, tapi walimahannya di rumah kan perlu biaya. Lagi pula di musim Covid-19 ini kan dilarang orang berkumpul-kumpul dalam partai besar. Makanya sekarang, yang penting kan sah, halalan tayiban wa asyikan.
Hambali jadi semakin dendam ketika melihat Rokhayati tak peduli akan teguran dan PSBB-nya, yang di sini berarti: Peraturan Suami Buat Bini.
Maka begitu melihat Rokhayati habis jalan dengan PIL-nya langsung dicegat di jembatan. Mereka cekcok di situ, sampai kemudian potongan kayu dipukulkan ke kepala Rokhyati, pletakkk!
Istri siri itu langsung tumbang, pingsan! Tapi Hambali tak juga iba, justru tubuh istrinya didorong sampai jatuh masuk ke kali. Kok tak hanyut?
Dia pun turun ke kali, dan tubuh istri siri itu didorong ke air agar terbawa arus. Legalah Hambali, karena sudah berhasil melampiaskan dendamnya.
Beberapa jam kemudian Rokhayati yang sudah meninggal ditemukan warga. Polisi pun mengadakan penyelidikan dan kecurigaan mengarah pada Hambali.
Penggembala itik itu tak berkutik, dia mengakui segala perbuatannya. “Habisnya, dia mengkhianati cintaku, sampai punya PIL segala.” Ujar Hambali di depan polisi.
Pil saja kok diributin, pil kinina obat malaria, kan? (DC/Gunarso TS)
SEBAGAI penggembala itik, Hambali, 40, tahu persis bahwa unggas berkaki dua itu tak mau poliandri, maunya poligami saja. Lha kok istrinya Rochayati, 35, coba-coba punya PIL, bentuk lain dari poliandri. Hambali langsung naik pitam, dan istri hasil kawin siri itu dibunuhnya dan mayat dibuang ke kali. Meski kita tiap hari makan telur, baik telur itik maupun…
