NAH INI DIA: Sudah Ditolong Jadi Pegawai Masih Bermain Dengan Suami
ITA, 40, agaknya memang perempuan tak tahu terima kasih. Sudah ditolong kerja di perusahaan miliknya, eh….masih ada main dengan suami Dini, 40. Maka Dini menggugat cerai suaminya. Dengan bantuan pengacara dia berharap harta gono-gini tak dibagi, Hendro 45, keluar rumah pakai kolor doang.
Air susu dibalas air tuba, begitulah perumpamaan orang yang tak tahu membalas budi. Sudah ditolong sedemikian rupa, agar hidupnya tak ngebelangsak, eh….begitu mulai berjaya malah bertingkah, merebut kebahagiaan rumahtangga sang dewa penolong. Dalam Qur’an, manusia model begini ini diperingatkan Allah Swt dengan firman-Nya: Fa bi`ayyi ala`i rabbikuma tukadziban (nikmat Allah apa lagi yang engkau dustakan, surat Arrahman ayat 13).
Ita warga kampung Entah Berentah di Kecamatan Auah Gelap, Surabaya, termasuk wanita yang mendustakan nikmat Tuhan itu. Sekitar tahun 2017 suaminya meninggal, sehingga dia kehilangan suamber ekonomi untuk membesarkan anak-anaknya. Mau usaha, tak punya modal, mau kredit bank, pasti ditanyakan punya usaha apa. Di kantor Pegadaian begitu juga, meski ada jaminan barang, jika tak ada usaha juga ditolak. Ini kan namanya mau menyelesaikan masalah malah dipermasalahkan.
Untung Ita ingat sahabat lamanya, Dini, yang sukses sebagai pengusaha. Kesanalah dia minta tolong. Meski sudah lama tak pernah ketemu, Dini tak tega menolak. Maka dia dipekerjakan pada perusahaannya, yang dikelola bersama suami. Seperti apa kompetensi Ita di perusahaannya, tak penting benar. Yang penting sudah bisa membantu teman lama.
Tapi lama-lama Ita ini ngelunjak, diam-diam dia meladeni hasrat Hendro suami Dini yang ada gangguan kronis di matanya, yakni mata keranjang. Ketika Hendro diam-diam mulai menggodanya, dia tak menolak. Mestinya kan menghindar, karena lelaki itu suami sahabatnya. Tapi kala itu Ita malah berprinsip, “Aku bakal dapat materil meski harus korbankan onderdil.”
Gaya permainan Ita-Hendro rapi sekali. Di kantor sama sekali tak kelihatan bahwa keduanya punya jaringan asmara di bawah tanah. Dini baru kaget ketika memeriksa CCTV di perusahaannya. Di sana terekam adegan Ita-Hendro berciuman mesra. Tentu saja Dini ngomel-ngomel, ketika dipanggil dan disidang dia hanya menangis sambil minta maaf.
Ita beralasan, keintiman dia dengan Hendro sekedar mencari rente belaka. Tapi Dini mana percaya. Tak mungkin lelaki memberikan benggol jika tak dapat pelayanan bonggol. Maka langsung saja Ita dikeluarkan, karena ternyata sahabatnya itu tak bisa mensyukuri nikmat Allah lewat tangan Dini.
Giliran Dini bikin perhitungan dengan Hendro. Dia ingin bercerai tapi sekaligus bikin bangkrut mantan suaminya itu. Dia pakai pengacara dengan tujuan, putusan hakim nanti tak ada pembagian harta gono gini. Semua menjadi hak mutlak Dini, sementara Hendro harus tinggalkan rumah di Kampung Entah Berentah hanya pakai kolor doang.
Pakai sepatu pun sudah jitu (driji metu). (JPNN/Gunarso TS)
ITA, 40, agaknya memang perempuan tak tahu terima kasih. Sudah ditolong kerja di perusahaan miliknya, eh….masih ada main dengan suami Dini, 40. Maka Dini menggugat cerai suaminya. Dengan bantuan pengacara dia berharap harta gono-gini tak dibagi, Hendro 45, keluar rumah pakai kolor doang. Air susu dibalas air tuba, begitulah perumpamaan orang yang tak tahu membalas…
